Jumat, 12 Juli 2013

Catatan Kecil

Tidak tahu apa yang sebenarnya telah terjadi, hanya tahu perasaan ini semakin hari semakin kuat. Hanya jika dia memintaku untuk menunggu saja, tanpa banyak pertanyaan pasti akan aku lakukan. Akan tetapi tidak ada kata atau apapun yang dia katakan. Ini adalah kekhawatiran terbesar yang akhir-akhir ini membelenggu.
Ini tidak boleh terjadi, seharusnya tidak pernah terjadi, tapi entah bagaimana aku sangat merindukannya.
Kenapa kita bertemu? bukankah sudah pasti ada skenario yang telah Dia persiapkan. Apapun rencananya, apapun bentuk ceritanya, apapun adegannya, apapun dialognya, kemanapun alurnya, semoga happy ending.
    Bolehkah membencinya? ingin sekali membencinya. Tapi tidak bisa. Aku tidak suka membenci orang apalagi membencinya. Atas dasar apa aku membencinya? Karena dia telah berani masuk ke dalam hidupku yang tenang, damai, tapi kemudian dia membuat semua susunan yang tertata rapi menjadi bentuk yang entah apa namanya. Dan lagi membencinya karena telah menyia-nyiakan dan mengabaikan.
    Sayangnya, perasaan benci itu terlalu sedikit dibanding perasaan lainnya.
Aku tidak suka menunggu, tapi jika dia meminta aku yakin aku bisa melakukannya. Hanya seandainya dia akan benar-benar datang.
    Ya Allah, perasaan apa namanya ini? Apa perasaan ini yang dari dulu orang-orang rasakan? Kenapa baru sekarang aku merasakannya? Apakah akan ada akhir yang indah nanti?

Sabtu, 08 Juni 2013

Apakah kamu baik2 saja? Aku tidak baik

Seaindainya jatuh cinta bisa semudah membuat artikel atau membuat puisi, mungkin sudah sejak lama aku memiliki seseorang. Sayangnya tidak semudah itu, tidak semua orang yang menjumpai bisa membuat jatuh cinta.
Tapi sekarang di saat ada seseorang yang aku pilih aku tidak pernah bisa memprediksi hatinya.
benar-benar tidak bisa diprediksi, abu-abu, terlalu abu-abu.

Kamuuu. Bisa baca ini gak?

only you, if it’s not you, I can’t be fixed. I know it, that it’s the way it should be, I know it too
I couldn’t bring myself to smile, only you can bring me to life
I can’t stop these tears, So just come like in the past
When you smiled, I was blinded by the light to that bright smile and I lost track of all thought I really miss you so much
No one can understand me, and also as of now
why to this day I still have a deep attachment to you? though they don’t get it, you have known it
I tried to forget you but, no matter how hard I tried, I keep finding myself looking for you
And even until now, I keep remembering that bright smile
Isn’t it pitiful, how did it come to be this way, I’m unable to quite forget everything altogether, There continues to exist an empty spot that refuses to be filled
It can only be filled by you
Are you doing okay? I’m not doing well, I need you








Jumat, 07 Juni 2013

Kamu.. Selalu berhasil membuatku tidak fokus

Kamu, kamu, dan selalu kamu yang selalu berhasil membuatku tidak fokus. PPL mau berakhir. Entah kenapa aku jadi takut. Dulu aku sangat ingin PPL berakhir, tapi setelah melewati semuanya aku jadi takut. Jika ditanya sudah siap berpisah, belum, dan tidak, tidak akan siap berpisah. Iya. Rasanya aku tidak akan pernah siap berpisah apalagi jika itu kamu. Terlalu banyak yang indah, terlalu banyak yang bisa dikenang. Sekarang aku bukan hanya takut untuk berpisah tapi aku juga takut bisa melupakan semua hal indah yang pernah aku alami. Ingatanku sangat kuat, tapi aku tidak pernah tahu kalau suatu saat ingatanku tidak bisa menyimpan memori semua hal indah di PPL.

Tapi, apapun yang terjadi aku ingin tetap bisa melihatmu, dan kamu masih bisa melihat aku tersenyum untukmu  ^^

Kamis, 06 Juni 2013

Teman yang Sengklek

"Kamu itu harus anggun!" begitu jawabnya saat aku bercerita apa yang aku alami.
"Uli kurang anggun apalagi ari kamu" jawabku.
"Pokonya jadi perempuan itu harus anggun" terus begitu jawabnya.
"Anggun mah penyanyi ih" kataku
"iya kamu harus anggun biar bisa go internasional" sakit jiwanya mulai kambuh.
-___-
"iihh serius ih" aku mulai agak kesal
"kamu gak liat uli udah anggun kaya putri dari kayangan" sambungku.
"iya dari kayangan yang tiba-tiba jatuh terus kelindes truk" katanya. -___-

Itulah sedikit percakapan aku dengan salah satu teman yang bisa dibilang teman baru. Dia adalah teman PPL. Entah dari mana asalnya bisa nyambung ngobrol sama dia. Celepeng. Itulah dia tapi ada saatnya ternyata dia juga bisa serius. Ngobrol apapun sangat nyaman. Dari mulai cara dia membuli, kemudian ngobrol hal yang ringan, terus ngajarin metode penelitian dan juga ngajarin berbagai hal tentang ilmu yang dia kuasai bahkan yang lebih jauh kita bisa ngobrolin hal yang pribadi. Dia ngobrolin pacarnya dan aku sendiri ngobrol tentang apa yang aku rasakan.

Ada banyak hal yang bisa aku ceritakan padanya. Dan dia selalu bisa mendengarkan dan bisa merespon apapun bentuk ceritanya. Begitulah makanya aku sampai bisa menceritakan yang pribadi padanya. Serius tapi konyol jadi bikin gak galau. Dan selalu bisa meringankan beban apapun walaupun kadang-kadang suka sok bijak tapi memang benar-benar bisa meringankan beban.

Selain bisa merespon dia itu terlalau care buat seorang teman baru. Terlalu peduli. Tapi aku bersyukur punya teman sebaik dia. Walaupun kadang dia itu sangat menyebalkan ada banyak panggilan aneh dia untukku.

Ini contohnya "Otak bengkok", "Otak sengklek", "orang geje", "orang aneh" -____-

Kemarin kita ngobrol lagi. Aku juga cerita tentang yang sedang terjadi dengan "Mr x" dan dengan sok bijak dia bilang "Semua manusia siap untuk ada di atas tapi tidak semua manusia siap untuk berada di bawah, dan kamu harus jadi manusia yang selalu siap untuk ada di bawah, biar pas tiba-tiba kamu ada di atas kamu bisa ngerasain betapa senengnya kamu" hening sebentar. Lalu aku tertawa.

Makan apa dia tadi pagi, sok bijaknya mulai. Haha. Tapi emang bener juga emang harusnya kaya gitu.

Dia juga bilang lagi. "intinya jangan terlalu pede, jalanin aja kaya biasa, jangan terlalu berharap" begitu kata dia.

Rada gimana gitu kalimat yang ini tapi yaaaa emang bener juga.
Dia selalu ingin tau siapa "Mr x" itu. haha. Tenang ada saatnya aku memberitahu dia segalanya. Tapi tidak sekarang tidak di waktu yang seperti ini.

Muka mas ancanya gak nahan bikin ngakak. Tapi hanya terimakasih yang bisa aku berikan untuk setiap bentuk kepedulian dia. Terimakasih untuk mau diminta bantu ini bantu itu, mau membelikan makan tanpa diminta, mau membelikan minum tanpa diminta, mau menemani makan. Aku pikir dia juga begitu pada pacarnya tapi ternyata dia bilang dia malu kalau sama pacarnya.

Hah?. Dia punya rasa malu juga? haha. Tapi apaun terimakasih mas anca kw. Tetaplah jadi teman yang sengklek.






Rabu, 29 Mei 2013

Menjadi Aku yang Berbeda

 "Kamu kan orangnya datar-datar aja kenapa sekarang jadi kaya gini?" kata seorang sahabat yang telah lama mengenalku.
Justru itu, aku sangat bingung, lebih dari bingung mungkin.
"Mana kamu yang dulu" begitu kata dia.
"Sejak kapan kamu bisa menghubungi cowo duluan? kamu kan anti banget" lanjutnya.
Iya benar sekali sejak kapan semuanya jadi berubah seperti ini? entahlah. Justru aku juga tidak tahu. Sejak kapan aku tidak tahu, tapi sesaat setelah dia selesai wudhu di kamar mandi  rumahku. Saat itulah aku merasa aku hanya ingin selalu melihatnya.
Iya, aku merasa menjadi orang yang berbeda, tapi aku tidak pernah keberatan dengan perubahan itu karena aku menjadi lebih positif memandang semuanya. Namun ketakutan tetap saja ada. Ketakutan akan terluka itu ada, benar-benar ada, sayangnya aku hanya bisa berharap dan bisa berusaha agar luka itu tidak pernah datang, tanpa punya jaminan luka itu benar-benar tidak akan pernah datang.

Aku memang tidak baik

Aku baik? iya tau, jawabannya gak, ada yg jauh lebih baik dari aku.

Masih numpuk di dada ternyata perasaannya. Tumpukan perasaan ini sama dengan tumpukan pertanyaan yang ada di kepala. Manusia adalah manusia. Aku adalah aku, aku terlalu biasa jadi manusia yang di atas rata-rata.
Canda tawa bersama anak-anak ternyata tidak mampu menyembuhkan segalanya. Rasa sakitnya masih ada. Pertanyaanya balik lagi, kenapa? Jika dia tujuanmu, kenapa harus menghampiri aku dulu.
Dia, dia yang mana dulu? dia yang aku kenal atau dia yang disebutkan nama tempatnya. Ah nama tempat itu bikin nyesek.


Selasa, 28 Mei 2013

Entah....

Ada banyak pertanyaan di kepala, terlalu banyak, apa yang sebenarnya terjadi? Aku sangat tidak mengerti.
Kamu. Apa pernah kamu mencoba untuk mengerti apa yang aku rasakan? Kenapa semuanya menjadi sangat abu-abu?
Kamu. Apa kamu tahu sejak kamu datang semuanya menjadi indah? tapi sekarang?
Kamu. Apa kamu tahu dari sekian banyak orang cuma kamu yang bisa menembus hatiku?
Apa ternyata cewe baik itu bukan aku?
apa anak baik itu bukan aku? ah lupa, tentu saja ada banyak orang yg lebih baik dari aku.
apa ternyata lagu yg bikin melting berlipat-lipat itu bukan untuk aku?
apa lagu so7 itu bukan untuk aku?
tapi kenapa kamu memintaku untuk mendengarkan lagu itu?


Aku mengingat semua yg pernah kamu ucapkan, aku menyimpannya. Dulu kamu begitu khawatir aku berubah, tapi sekarang?
Dulu kamu bilang jangan membiaskan perasaan, tapi ternyata?

Sekarang, aku sangat tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Terlihat bodoh? mungkin.
Seseorang yang susah jatuh hati, akan susah juga lupa, sekalinya memberikan perasaan pasti akan dalem.

Selasa, 11 Januari 2011

puisi


Kosong

Kusandarkan tubuhku pada kursi tua ini
Memori otakku mulai berselancar menerjang ombak kenangan
Gemuruh,
 Gemercik,
Beriak
Dan mengalir
Tanganku menyangga daguku
Tapi tubuhku tak mampu menyangga kisah ini
Menghentakan cerita berharga
Mengunci jiwa kelabu tanpa pentilasi
Gelap dan dingin merenggutnya
Jiwa ini kembali kosong
Tak ada sentuhan
Entah sampai kapan begini
Kosong dan selalu kosong
Kupejamkan mataku,
hilang.. pekiku dalam hati



Sendiri


Mereka
Berjalan
Berlari
Tertawa
Menangis
Tapi aku…
Hanya diam
Aku benci sepi
Andai saja kau peka
Ribuan tanda tanya dalam otakku
Takkan menjelma menjadi kegelisahan
Sekeras apapun teriakku
Orang-orang akan tetap berjalan seperti biasa
Betapapun kusutnya benang-benang memori dalam otakku
Orang-orang akan memperlakukan aku seperti biasa
Tidak ada yang memahami
Tidak..
Karena mereka tidak ada dalam posisiku…
Bahkan  kau
Karena hanya aku
Kesendirianku
Kesepianku
Kebosananku
Yang tau…



                        sebagian siklus kehidupan adalah keangkuhan                   
Mereka bagian dari siklus kehidupan
Terkadang banyak yang tak kumengerti
Entah aku yang bodoh
Atau memang hingar bingar dunia yang telah memperbudak mereka
Menghujat semaunya
Berlomba-lomba mengecat, memoles, dan mewarnai wajah
Tampak seperti badut yang akan menghibur anak-anak yang sedang berpuasa tertawa
Entah aku yang ketinggalan zaman
Atau memang etika sudah tidak di kepala mereka
Berlomba-lomba memuaskan nafsu dunia
Berlomba-lomba mengisolasi gengsi
Berlomba-lomba mengeluarkan rupiah
Hanya sekedar ingin membungkus diri dari merk-merk mahal
Akan diinjaknya siapapun yang ia rasa kecil dan kotor
Aneh memang
Bukankah semua manusia terbuat dari tanah dan akan kembali pada tanah 

 Perasaan Itu Datang Tiba-Tiba

Tak pernah kusangka
Sedikitpun tidak
Tak pernah terpikir
Sekalipun juga tidak
Saraf-saraf di otakku meronta-ronta meminta bayanganmu hadir di memoriku
Tak pernah kuduga
Aliran darahku beriak-riak mempercepat hentakan jantungku
ketika pandanganku bertemu dengan tatapanmu
Takpernah terpikir
Selintaspun tidak
Setelah hari itu
Aku selalu merindukanmu
Aku tak pernah tahu mengapa
Kini dalam benakku ribuan tanda tanya menghampiri
Andai saja kau tahu
Andai saja kau mengerti arti rasa ini
Hanya saja kau takpeka atas semua keraguan ini
Keraguan yang menganiayaku
Keraguan yang menyiksaku
Dan Karaguanku
Keraguanku adalah kau




Perasaan yang Nyata

Biarlah hanya aku yang tahu…
Tatapanmu lurus menusuk sukmaku
Aku merasa sukmaku bernanah terkena panah tatapanmu
Terasa perih
Namun harus aku mengakui imajinasiku mulai berwarna ketika itu
Aku menunggu
Namun angin tak juga menyampaikan pesan apapun untukku
Daun-daun kering pun jatuh begitu saja
Tak peduli ada aku dan kau
Aku yang selalu menghindari tatapanmu
Tatapan yang kuartikan lebih dan lebih
Salahkah persipsiku?
Hanya kau yang tahu
Semuanya terus mengalir
Tanpa memberiku tanda kemana akan bermuara
Hingga aku tersadar sebuah perasaan yang nyata menghinggapiku
Suatu ketika saat segalanya terasa abu-abu untukku
Saat udara yang kuhirup sama dengan yang kau hirup
Saat matahari menerpa wajahku saat itu pula menerpa wajahmu
Saat angin membelaiku saat itu pula angin membelaimu
Saat aku dan kau berada dalam satu lingkaran nyata
Saat aku dan kau tersambung oleh sebuah benang batin
Maka saat itulah aku jatuh cinta padamu



Tanda tanya


Apakah arti semua ini?
Apakah yang kulihat ini?
Apakah yang kudengar ini?
Apakah yang kurasakan ini?
Jika takkan ada jawabannya
Hindarkan, buang, lenyapkan dariku
Isyarat tentang hati dan bisikan tentang harapan
Perasaan yang jauh masuk ke dalam lubuk hatiku karena matamu
Apakah arti dari semua itu?
Apakah waktu yang akan menjawabnya?
Sehingga aku harus menunggu?
Namun apa yang harus aku tunggu?
Akankah yang aku tunggu itu datang padaku?
Kemudian menjawab semua pertanyaanku
Menjelaskannya padaku apakah arti dari semua yang aku rasakan ini
 Sesungguhnya aku terjebak dalam perasaanku
Kini pekat dalam hatiku karna sinar tajam korneamu
Aku malu pada diriku sendiri
Aku tak mampu menghindar
Aku tak mampu lari
aku tak mampu beranjak
aku tak mampu menampik cahaya harapan dari matamu














menunggu senyummu


 Menunggu Senyummu
Hujan yang mengguyur sangat deras sore itu. Di pelataran parkir salah satu universitas negeri di Bandung, seorang mahasiswi terjebak di dalamnya. Kemudian ia berteduh di pinggiran  parkiran yang tidak terkena hujan. Ia  memegang sebuah helm warna hitam, memakai celana jeans dengan alas kaki sepatu all star warna krem memakai jaket warna biru berkuncung dengan syal ungu muda mengalungi lehernya.
Berkali-kali ia menerawang hujan yang tak kunjung reda dan berkali-kali pula ia melihat jam tangan hitam yang ia kenakan di tangan kirinya.
Tiba-tiba datang seseorang yang hendak berteduh di tempat yang sama dengan Gicha. Wajah orang itu tidak asing bagi Gicha, begitu pula sebaliknya. Adalah Danar kakak tingkat Gicha di Jurusan Astronomi. Namun mereka tidak mengenal satu sama lain.
Gicha hanya diam mendengarkan mp3 di hp nya dengan headset di telinga kirinya. Begitu juga Danar sangat menikmati suara di balik headset yang ia pasang di kedua telinganya, kedua tangannya dimasukan ke saku celana. Hening. Hanya gemercik hujan yang terdengar diantara mereka.
Akhirnya Gicha memilih untuk meninggalkan tempat itu dan pulang dengan menerobos hujan. Namun saat ia menghidupkan mesin motornya dan berkali-kali mencobanya entah mengapa motor itu tidak juga hidup seakan-akan menahan Gicha untuk tidak pulang saat itu.
 “Turun!!” tiba-tiba Gicha mendengar suara seseorang yang sudah berdiri di sampingnya.
“untuk apa?” jawab Gicha dingin.
“kau tidak mau pulang?” jawab Danar yakin.
“aku bisa melakukannya sendiri” ucap Gicha masih dengan ekspresi yang sama.
“memangnya menurunkan gengsi di saat seperti ini sangat susah?” dengan ekspresi agak menggoda.
Akhirnya Gicha turun dari motor.
“lakukan apa yang ingin kau lakukan!” tutur Gicha menyerahkan kunci motornya.
Danar menyambutnya dengan gesit, kemudian dengan cekatan ia segera memeriksa motor Gicha. Gicha memperhatikan Danar dengan kemeja kotak-kotak hijau yang semakin basah terkena hujan yang masih rintik-rintik. Dengan pandangan yang tak berubah dalam hatinya Gicha bertanya-tanya mengapa ia harus bersikap dingin pada orang yang tidak tahu apa-apa tentang penderitaan batinnya.
“sekarang cobalah!” suara Danar sempat mengagetkan Gicha.
Dengan ekspresi datar gicha menyambar kunci motor yang Danar berikan lalu mencobanya dan ya berhasil.
“terimakasih” ucap Gicha masih dengan ekspresi dingin.
“hanya itu yang bisa kau berikan?”
“kau mau aku melakukan apa untukmu?”
“Setidaknya kau bisa mengucapkan terimakasih dengan senyum”
“aku harus pergi”
Setelah mengucapkan kalimat terakhir Gicha langsung meluncur menorobos hujan. Danar hanya tertegun melihat Gicha menghilang di balik rinti-rintik hujan. Sebelumnya tidak pernah ada gadis yang bersikap sedingin itu padanya, mengingat Danar adalah salah satu mahasiswa popular di jurusannya, ia tergabung di komunitas bike freestyle yang punya segudang prestasi membawa nama baik universitas. Selain mempunyai wajah  tampan, Danar memiliki sifat unik dan menarik sehingga tidak sulit mendapat banyak teman. Sedangkan Gicha, perannya di lingkungan sosial sangat bertolak belakang dengan Danar. Gicha lebih suka menyendiri. Ironisnya, sendiri yang memaksa ia lebih nyaman.
Sikap dingin Gicha bukan tanpa sebab, ia mempunyai derita batin yang menyakitkan. Semua orang yang ia temui selalu menganggap ia lemah, rendah dan hina. Gicha tidak mempunyai bakat yang bisa dibanggakan dan dipamerkan pada orang lain. Bukan tidak punya, hanya ia tidak punya kesempatan untuk mengasahnya. Penampilannya biasa saja sehingga jarang ada orang yang memandangnya. Melihat judgement orang-orang terhadapnya membuat Gicha lebih suka diam, sehingga orang –orang lebih meremehkannya. Menganggap diamnya Gicha adalah kebodohan.
Keluarga yang seharusnya tempat pelarĂ­an justru yang sebenarnya mempelopori semua yang Gicha hadapi sekarang. Gicha sering mendapati orang tuanya bertengkar di depannya. Bahkan sering kali ia melihat ibunya dipukul dan ditampar oleh ayahnya. Semua yang ia lihat sangat menyedihkan sehingga membuatnya tumbuh dengan ketakutan, kebencian dan tidak peka terhadap lingkungan sosial.
Di kampus Danar dan Gicha sering kebetulan bertemu atau berpapasan, hanya saja setelah kejadian di parkiran membuat petemuan mereka yang kebetulan itu terasa berbeda. Danar sering melambaikan tangan, mengucapkan hai, atau memberikan senyuman sebagai sapaaan pada Gicha, tetapi Gicha tetaplah Gicha hatinya sudah terlalu keras dan pikirannya beku.
Gicha terkejut saat keluar dari kelasnya, ia mendapati sosok yang akhir-akhir ini menghampiri hari-harinya. Ya sosok itu adalah Danar.
“kakak sedang apa disini?” tiba-tiba suara Riri dari belakang Gicha kemudian melewati Gicha.
Danar hanya tersenyum menyambut sapaan Riri. Riri adalah teman sekelas Gicha dia aktif di berbagai kegiatan salah satunya di Hima. Namun Riri termasuk orang yang melihat seseorang dari luarnya. Ia hanya bersikap ramah pada orang yang ia rasa pantas untuk ia perlakukan dengan baik. Jelas itu membuat Gicha tak sedikitpun respect padanya.
Melihat Danar dan Riri akrab, Gicha melanjutkan langkahnya melewati mereka berdua. Ia memilih menuruni anak tangga satu persatu dibanding memakai lift. Sambil melamun ia menghitung anak tangga satu persatu hingga sampai di lobi dan keluar dari gedung fakultasnya.
“Tunggu!”
Gicha menoleh dan terkejut saat mengetahui suara itu milik Danar.
“aku ingin bicara denganmu” ucap Danar sambil mendekat pada Gicha.
Gicha kembali melanjutkan langkahnya tidak mempedulikan Danar.
“kenapa kau seperti ini? Kenapa kau tidak bisa sebentar saja meresponku?
“bukan urusanmu”
“kau butuh teman bicara, untuk berbagi pikiran dan perasaan, dan aku bersedia untuk itu” tegas Danar.
“kau tidak perlu ikut campur” jawab Gicha dan melanjutkan langkahnya.
“manusia adalah makhluk sosial, membutuhkan orang lain untuk hidup begitu juga kau dan aku, kita tidak akan bertahan lama tanpa orang lain” teriak Danar.
“lalu apa mereka menganggapku manusia? Apa mereka memperlakukan aku seperti manusia pada umumnya? Ucap Gicha dengan nada tinggi. Danar tertegun.
“sayangnya aku tidak menerima semua itu” sambung Gicha lirih.
Tatapannya masih pada Danar. Hening. Diam. Gicha merasakan tenggorokannya sakit menahan tangisan. Nafasnya tersendat, terasa sakit di dada, ingin rasanya ia menumpahkan air mata. Namun itu tidak mungkin ia lakukan di tempat yang banyak orang bisa melihatnya.
Keesokan harinya Gicha merasa badannya sangat lemah karena pikirannya terus bekerja menganalis kejadian kemarin. Saat keluar dari pagar rumah Gicha kembali dikejutkan dengan sosok yang membuat pikirannya bekerja keras semalaman. Danar. Ia bersandar di motornya tepat di samping pagar rumah Gicha.
 “berhentilah mengasihaniku” ucap Gicha dengan nada lebih lembut dari biasanya.
“aku tidak pernah mengasihanimu, aku hanya ingin kau memberi aku kesempatan untuk menjadi teman bicara, tempat kau mengekspresikan apa yang kau rasakan. Aku tahu terlelu cepat jika mengharapkanmu percaya padaku tapi percayalah aku bisa kau andalkan”
“beri aku alasan kenapa kau mau melakukan semua ini”
“baik” tegas Danar dengan senyum dan penuh keyakinan.
“apa kau tahu? banyak orang yang aku temui dengan segala kepura-puraannya, pura-pura tersenyum, pura-pura ramah, pura-pura baik, padahal semua itu palsu, mereka melakukannya demi image, tapi aku tidak menemukannya di dalam dirimu. Aku tidak tahu kau dapat menerima alasanku atau tidak tapi memang itulah alasanku” urai Danar dengan meyakinkan.
“aku tidak tahu harus bilang iya atau tidak” ucap Gicha
“aku mengerti, kau takut aku seperti yang lain, menghampirimu kemudian berlalu begitu saja, mungkin tidak mudah bagimu menerima semua ini, tapi aku harap kau mau mencoba percaya padaku” tutur danar.
“Bagaimana kalau pulang kuliah kau berkunjung ke rumahku?” sambung Danar.
“untuk apa?”
“aku sangat dekat dengan ibuku, kau boleh mencari tahu apa saja tentangku, kejelekanku, kelemahanku, jika aku ingkar janji kau bisa menjadikan itu sebagai senjata”
Gicha tersenyum mendengar ajakan Danar. Untuk pertama kalinya setelah kuliah, Gicha tersenyum. Akhirnya Danar melihat senyuman yang tulus dari seorang gadis yang membuatnya penasaran selama ini.
Hari ini Gicha dan Danar merasakan sesuatu yang berbeda, penuh warna dan kehangatan. Mereka menuju kampus dengan penuh harapan untuk masa depan yang cerah.